Berdakwah Ala ‘Syekh Satelit’
Berbalut pakaian gamis dan kafiyeh, Ahmad Al-Shugairi naik ke atas pentas. Sebuah mikrofon tergenggam di tangannya. ”Saya bukanlah seorang syekh,” ungkapnya kepada para hadirin yang memenuhi sebuah gedung pertunjukan. Dari mulut dai muda itu lalu meluncur pesan-pesan dakwah Islamiah yang disampaikan dengan lincah dan enerjik.
Sesekali ruangan pertunjukan yang dipenuhi anak-anak muda itu terdengar riuh. Senyum segar menghiasi para jamaah saat Shugairi menyampaikan pesan dakwahnya dengan selingan humor. Tak lama kemudian, suasana berubah hening. Air mata para kawula muda menetes ketika sang dai mengisahkan wafatnya Rasulullah SAW.
Shugairi mengajak anak-anak muda Muslim melawan sektarianisme. Dai muda itu lalu mengingatkan pentingnya menghormati dan memberi tempat yang layak bagi kaum Muslimah. Ia pun kerap mengkritisi kehidupan masyarakat Muslim Arab. Kisah hidup dan pengalamannya selama tujuh tahun di California, AS, juga dijadikan bahan ceramahnya.
Dua jam sudah, dai muda itu tampil di pentas. Begitu ucapan salam menutup perjumpaan, para jamaah langsung melakukan standing ovation. Tak mudah baginya untuk keluar dari gedung pertunjukan itu. Di pintu luar, para jamaah mengerubutinya agar bisa bersalaman dengan sang dai idola.
“Elvis telah meninggalkan gedung,” celetuknya berguyon sembari duduk di kursi mobil. Shugairi kini tengah menjadi idola anak-anak muda di Arab. Ia adalah generasi baru ”syekh satelit”–sebuah acara keagamaan di televisi. Lewat acara dakwah yang ditayangkan di televisi, Shugairi menjadi semacam energi yang mampu membangkitkan kembali gairah keislaman di kalangan anak muda Arab.
Shugairi mampu menyentuh hati kawula muda Arab yang tengah ‘dahaga’ akan ilmu agama. Generasi muda Arab, seperti di Mesir dan Arab Saudi kini tengah mengalami semacam krisis identitas. Kehadiran Shugairi dengan pesan-pesan dakwahnya seperti oase di tengah Gurun Sahara.
Pria berusia 35 tahun itu memang sungguh menarik. Ia mampu memadukan komitmennya yang begitu dalam tentang Islam dengan gaya dakwahnya yang modern dan penuh dengan humor segar. ”Bagi saya, Islam itu ibarat sebuah produk istimewa yang perlu dikemas lebih baik lagi,” tutur Shugairi yang bergelar MBA itu.
Dalam pandangan anak muda Arab, Shugairi menawarkan semacam jalan rekonsiliasi antara Timur dan Barat. ”Dia membuat kami menjadi dekat dengan Islam, yang terkadang terpisahkan oleh kehidupan modern kami,” tutur Imma Al-Khaidi (25 tahun), warga Arab Saudi.
Bakr Azam juga merasakan betapa dakwah yang disampaikan Shugairi begitu mengena. Ia mengaku pelajaran agama yang diterimanya di sekolah kurang mampu menyentuh sisi religiusnya. Pelajaran agama disampaikan dengan cara yang disebutnya ‘kering’. Azam mengaku dahaga akan ilmu agama bisa terisi oleh ceramah yang disampaikan ”syekh satelit”.
”Di sekolah menengah, cara mereka mengajarkan ilmu agama sangat hitam dan putih,” tutur pria berusia 28 tahun ini. Warga Arab yang bekerja di Toyota itu mengatakan, pelajaran agama yang disampaikan di sekolah kerap membuat dirinya selalu merasa melakukan hal yang salah.
Shugairi adalah sosok dai muda di Timur Tengah yang mampu membangkitkan gairah keislaman kaum muda Arab. Shugairi tampil dalam program utama televisi bertajuk Khawater(Pemikiran). Meski judulnya tampak berat, isinya justru dakwah ringan yang disenangi kawula muda di Timur Tengah.
”Ia mampu membawa kami kembali kepada agama,” ujar Azam menegaskan. Menurut dia, Shugairi mampu membantu anak muda di Arab untuk melihat Islam lebih luas. ”Islam itu bukan hanya hidup dalam gua dan terisolasi dari dunia. Islam itu mendunia. Islam itu modern dan Islam itu toleran,” imbuhnya.
Kali pertama Shugairi tampil di televisi tahun 2002. Saat itu, ia membawakan acara Yella Shabab (Hai, Kawula Muda). Dua tahun kemudian, dia tampil dalam acaranya sendiri bertajuk Khawater. Peristiwa 11 September 2001 telah menginsipirasinya untuk menyadarkan kaum muda tentang pemahaman agama yang moderat. Berkat gaya dakwahnya yang menarik, Shugairi pun menjadi sangat populer di Timur Tengah. islamonline/herald tribune/hri
(-)
Ditulis oleh baburrahman