Syekh Satelit

Januari 7, 2009
Rabu, 07 Januari 2009 pukul 07:56:00

Berdakwah Ala ‘Syekh Satelit’

Berbalut pakaian gamis dan kafiyeh, Ahmad Al-Shugairi naik ke atas pentas. Sebuah mikrofon tergenggam di tangannya. ”Saya bukanlah seorang syekh,” ungkapnya kepada para hadirin yang memenuhi sebuah gedung pertunjukan. Dari mulut dai muda itu lalu meluncur pesan-pesan dakwah Islamiah yang disampaikan dengan lincah dan enerjik.

Sesekali ruangan pertunjukan yang dipenuhi anak-anak muda itu terdengar riuh. Senyum segar menghiasi para jamaah saat Shugairi menyampaikan pesan dakwahnya dengan selingan humor. Tak lama kemudian, suasana berubah hening. Air mata para kawula muda menetes ketika sang dai mengisahkan wafatnya Rasulullah SAW.

Shugairi mengajak anak-anak muda Muslim melawan sektarianisme. Dai muda itu lalu mengingatkan pentingnya menghormati dan memberi tempat yang layak bagi kaum Muslimah. Ia pun kerap mengkritisi kehidupan masyarakat Muslim Arab. Kisah hidup dan pengalamannya selama tujuh tahun di California, AS, juga dijadikan bahan ceramahnya.

Dua jam sudah, dai muda itu tampil di pentas. Begitu ucapan salam menutup perjumpaan, para jamaah langsung melakukan standing ovation. Tak mudah baginya untuk keluar dari gedung pertunjukan itu. Di pintu luar, para jamaah mengerubutinya agar bisa bersalaman dengan sang dai idola.

“Elvis telah meninggalkan gedung,” celetuknya berguyon sembari duduk di kursi mobil. Shugairi kini tengah menjadi idola anak-anak muda di Arab. Ia adalah generasi baru ”syekh satelit”–sebuah acara keagamaan di televisi. Lewat acara dakwah yang ditayangkan di televisi, Shugairi menjadi semacam energi yang mampu membangkitkan kembali gairah keislaman di kalangan anak muda Arab.

Shugairi mampu menyentuh hati kawula muda Arab yang tengah ‘dahaga’ akan ilmu agama. Generasi muda Arab, seperti di Mesir dan Arab Saudi kini tengah mengalami semacam krisis identitas. Kehadiran Shugairi dengan pesan-pesan dakwahnya seperti oase di tengah Gurun Sahara.

Pria berusia 35 tahun itu memang sungguh menarik. Ia mampu memadukan komitmennya yang begitu dalam tentang Islam dengan gaya dakwahnya yang modern dan penuh dengan humor segar. ”Bagi saya, Islam itu ibarat sebuah produk istimewa yang perlu dikemas lebih baik lagi,” tutur Shugairi yang bergelar MBA itu.

Dalam pandangan anak muda Arab, Shugairi menawarkan semacam jalan rekonsiliasi antara Timur dan Barat. ”Dia membuat kami menjadi dekat dengan Islam, yang terkadang terpisahkan oleh kehidupan modern kami,” tutur Imma Al-Khaidi (25 tahun), warga Arab Saudi.

Bakr Azam juga merasakan betapa dakwah yang disampaikan Shugairi begitu mengena. Ia mengaku pelajaran agama yang diterimanya di sekolah kurang mampu menyentuh sisi religiusnya. Pelajaran agama disampaikan dengan cara yang disebutnya ‘kering’. Azam mengaku dahaga akan ilmu agama bisa terisi oleh ceramah yang disampaikan ”syekh satelit”.

”Di sekolah menengah, cara mereka mengajarkan ilmu agama sangat hitam dan putih,” tutur pria berusia 28 tahun ini. Warga Arab yang bekerja di Toyota itu mengatakan, pelajaran agama yang disampaikan di sekolah kerap membuat dirinya selalu merasa melakukan hal yang salah.

Shugairi adalah sosok dai muda di Timur Tengah yang mampu membangkitkan gairah keislaman kaum muda Arab. Shugairi tampil dalam program utama televisi bertajuk  Khawater(Pemikiran). Meski judulnya tampak berat, isinya justru dakwah ringan yang disenangi kawula muda di Timur Tengah.

”Ia mampu membawa kami kembali kepada agama,” ujar Azam menegaskan. Menurut dia, Shugairi mampu membantu anak muda di Arab untuk melihat Islam lebih luas. ”Islam itu bukan hanya hidup dalam gua dan terisolasi dari dunia. Islam itu mendunia. Islam itu modern dan Islam itu toleran,” imbuhnya.

Kali pertama Shugairi tampil di televisi tahun 2002. Saat itu, ia membawakan acara Yella Shabab (Hai, Kawula Muda). Dua tahun kemudian, dia tampil dalam acaranya sendiri bertajuk Khawater. Peristiwa 11 September 2001 telah menginsipirasinya untuk menyadarkan kaum muda tentang pemahaman agama yang moderat. Berkat gaya dakwahnya yang menarik, Shugairi pun menjadi sangat populer di Timur Tengah.   islamonline/herald tribune/hri

(-)


Filsafat islam perlu dihidupkan kembali

Januari 7, 2009
Rabu, 07 Januari 2009 pukul 07:58:00

Filsafat Islam Perlu Dihidupkan Lagi

JAKARTA — Umat Islam diingatkan untuk menghidupkan kembali filsafat Islam. Inteletual Muslim, Dr Haidar Bagir mengatakan, kehadiran filsafat Islam yang telah ‘mati’ sangat diperlukan kaum Muslimin di era modern ini. Filsafat Islam, tutur dia, dapat memberi manfaat bagi kehidupan umat.

”Filsafat Islam bisa mengembalikan makna hidup yang sebenarnya,” ungkap pendiri Islamic Collage for Advanced Studies (ICAS) itu di sela-sela acara A Set of Conferences Across Java di Jakarta, Selasa (6/1). Presiden Direktur Mizan itu menambahkan, akibat tak mengetahui dan mengenal filsafat Islam, masyarakat Indonesia seakan telah kehilangan pegangan dan makna hidup.

Menurut Haidar, filsafat Islam bisa mendorong kaum Muslim benar-benar memahami kompleksitas persoalan pembangunan sistem-sistem kehidupan alternatif. Hanya dengan menguasai isu-isu filosofis mendasar, papar dia, kaum Muslim dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang.

“Filsafat juga bisa memberikan kebahagiaan ke dalam kehidupan manusia dan juga meningkatkan keimanan,” tutur Haidar. Menurut dia, filsafat Islam telah luntur karena kurangnya penghargaan terhadap Islam. Padahal, kata Haidar, filsafat Islam lebih kaya cakupannya dibandingkan filsafat Barat.

Haidar mencontohkan, hampir segala hal seperti sains dan alam semua dasarnya ada dalam filsafat Islam. “Filsafat Islam tidak kalah baik dari pada filsafat Barat. Filsafat Islam ini begitu kaya dan luas,” ungkapnya. Ia menegaskan, filsafat Islam berbeda dengan filsafat Barat. Sebab, filasafat Islam berakar dalam metafisika, epistomologi realis-konstruktif dan bersifat teologis.

Peradaban Islam pernah mencapai masa kejayaan dalam berbagai bidang dibandingkan kebudayaan masyarakat lain. ”Salah satu faktornya, filsafat berkembang dengan subur.” Menurut dia, pada masa keemasannya, peradaban Islam dikembangkan oleh figur-figur ilmuwan yang dikenal sebagai filosof seperti; Jabir Ibnu Hayyan, Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Razi serta Al-Tusi.

Haidar pun mengutip pernyataan Prof Osman Bakar yang menyatakan mundurnya sains di dunia Islam lantaran dipicu oleh permusuhan terhadap filsafat yang dilakukan negara-negara Muslim. Haidar mengaku prihatin, karena sebagian besar masyarakat Indonesia telah didominasi oleh logika kapitalisme yang mengikuti filsafat Barat.

Menurutnya, ketidaktahuan umat Islam Indonesia terhadap filsafat Islam kemungkinan disebabkan sejarah masuknya Islam. “Saat itu Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-15 M,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Profesor Karim Douglas Crow dari universitas Teknologi Nanyang, Singapura, menegaskan untuk menjadi bagian dari masyarakat global tanpa kehilangan identitas, umat Muslim harus bisa menggali ajaran Islam dan ajaran Nabi. Dengan memahami ajaran Islam dan Rasulullah SAW, kata dia, umat Islam harus bisa menerjemahkan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kontemporer.

Di tempat tepisah, Direktur Institute for The Study Of Islamic Thought and civilization (INSIST), Hamid Fahmy Zarkasyi juga menyatakan perlunya dihidupkan kembali filsafat Islam. Sebab, kata dia, kekuatan ilmu tanpa dilandasi filosofi akan kehilangan nilai seperti nilai moral, ketuhanan, ataupun nilai lainnya. “Untuk itu sangat penting untuk menghidupkan kembali makna filsafat dilingkup cendekiawan Islam,” tegasnya. Menurut Hamid, ilmu akan kehilangan nilai jika tidak digarap dalam ranah filsafat.  c63

(-)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.