Menyayangi Anggota Keluarga

Juni 13, 2008

Menyayangi Anggota Keluarga

Suatu hari Rasulullah SAW mencium anak kecil. Seorang Badui terheran-heran melihat kasih sayang yang beliau ditunjukkan itu. “Saya memiliki banyak anak, tapi tidak pernah mencium mereka,” ujarnya. Lalu Rasul berkata, “Tidaklah ada kasih sayang pada diri seseorang selain memperindah pribadinya.” Sesungguhnya, kasih sayang itu harus hadir dari hati, tidak bisa direkayasa. Sebab, hati hanya bisa disentuh dengan hati lagi. Rasul SAW pernah bersabda, “Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.”

Mulailah dengan menyayangi orang di lingkungan terdekat, yaitu orangtua bagaimana pun adanya mereka. Tidak ada orangtua yang sempurna dan ideal. Kita harus menjadi garda depan yang menjadi jalan bagi mereka untuk lebih dekat kepada Allah, agar kuat iman, semakin taat, bisa bertobat, terhindar dari maksiat dan bisa menebar manfaat (rumus 5 <I>at<I>). Kekurangan dan kesalahan orangtua adalah ladang amal bagi kita untuk bisa memaafkan sebelum meminta maaf, serta berjuang memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka dengan cara paling bijak.

Selanjutnya adalah keluarga, anak-anak dan istri kita. Sayang kepada keluarga tidak identik dengan memberi harta dan fasilitas melimpah. Kasih sayang terpenting bagi keluarga adalah membuat seisi rumah semakin dekat kepada Allah. Sehebat apa pun yang kita berikan, kalau tidak kuat iman, mereka tidak akan sanggup mengarungi hidup dengan lebih baik.

Tidak salah kita memberikan segala kemudahan dan fasilitas duniawi. Tapi kalau tidak dibarengi dengan kesungguhan anak mengenal Allah, maka fasilitas bisa menjadi jalan maksiat, menjadi sombong dan kufur nikmat. Bahkan menjadi jalan kesengsaraan bagi orangtua. Maka didiklah anak untuk mengenal Allah, mentaati dan menjauhi larangan-Nya.

Kita bisa meneladani Luqman yang menyiapkan anaknya. Beliau mengajarkan lima hal dasar dalam Islam. Peristiwa ini direkam dalam Al-Quran QS Luqman [31] ayat 13-19. Kelima hal tersebut, pertama, akidah yang lurus. Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman [31]:13). Larangan ini sekaligus mengajarkan akan wujud dan keesaan Allah atau akidah.

Kedua, etika yang baik, diawali kepada orangtua. Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS Luqman [31]:14). Beretika baik harus dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.

Ketiga, ibadah secara istikamah. “Hai anakku, dirikanlah shalat (secara berkesinambungan dan sempurna)” (QS Luqman [31]: 17). Shalat adalah ibadah paling utama. Bahkan menjadi pembeda antara Muslim dengan kafir. Shalat melatih seorang hamba merasakan kehadiran Allah SWT. Perintah shalat ini juga berarti perintah melakukan ibadah-ibadah lain.

Keempat, dakwah. Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (QS Luqman [31]:17).

Kelima, akhlak baik. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (QS Luqman [31]: 18-19). Akhlak baik adalah modal utama untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Modal ini sangat diperlukan untuk menjalani profesi sebagai entertaine

Setelah diajarkan, orangtua harus memastikan kelima hal tersebut tertanam dalam jiwa anak. Setelah itu dampingi anak, jadilah teman curhat dan guru pembimbing.Saudaraku, mendidik anak tidak boleh sisa waktu, sisa tenaga dan sisa perhatian. Seyogyanya, orangtua berbagi tugas untuk mengantarkan anak-anaknya lebih baik dibanding dirinya.

( KH Abdullah Gymnastiar )  Sumber : Republika online


meneladani Asy Sahiid

Juni 13, 2008

Meneladani Asy Sahiid

Allah Azza wa Jalla melihat apa yang kita lakukan, dan kelak akan memintai tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan tersebut. Karena itu, melakukan sebuah pekerjaan atau ‘amal dengan kualitas terbaik, menjadi sebuah keniscayaan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersikap ihsan (merasa melihat dan dilihat Allah) dalam setiap gerak langkah kita.

Salah satu sifat Allah yang terdapat dalam Asma’ul Husna adalah Asy-Syahiid atau Allah Yang Maha Menyaksikan dan Maha Disaksikan. Menurut Dr Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Ilahi, kata Asy Syahiid tersusun dari akar kata yang tersusun dari huruf-huruf syin, ha’, dan dal. Makna dasarnya berkisar pada “kehadiran”, pengetahuan, informasi, dan kesaksian.

Orang yang gugur dalam peperangan membela agama Allah dinamai syahiid karena para malaikat menghadiri kematiannya. Dapat pula disebutkan bahwa bumi dinamai syahidah, sehingga yang gugur di bumi disebut syahid. Syahiid berarti pula “yang disaksikan” atau “yang menyaksikan”. Syahiid disaksikan oleh pihak lain, serta dijadikan saksi dalam arti “teladan” dan dalam saat yang sama iapun menyaksikan kebenaran.

Allah sebagai Asy Syahiid dapat dipahami bahwa Allah hadir, tidak gaib dari segala sesuatu, serta “menyaksikan segala sesuatu”. Dalam QS Saba’ [34] ayat 47 disebutkan, “Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu. Allah pun dapat disaksikan oleh segala sesuatu melalui bukti-bukti kehadiran-Nya di dunia. Apakah ada keraguan terhadap keberadaan Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi?” (QS Ibrahim [14]: 10).

Asy Syahid-Nya Allah; sifat Menyaksikan-Nya Allah berbeda dengan menyaksikannya manusia. Perbuatan menyaksikan Allah meliputi segala sesuatu, tidak terbatas ruang dan waktu, hingga detail yang tak mungkin dilakukan makhluk. Sebagai ilustrasi, tatkala kita menyaksikan pertandingan sepakbola, kita terikat pada satu objek, satu waktu tertentu, dan satu kondisi tertentu pula.

Apa hikmah yang dapat kita ambil dari asma’ Allah Asy Syahiid ini?
Pertama, kita dituntut untuk berlaku ihsan dalam hidup; melakukan segala sesuatu dengan cara terbaik. Allah SWT melihat apa yang kita lakukan, dan kelak akan memintai tanggung jawab kita terhadap apa yang kita lakukan tersebut. Karena itu, melakukan sebuah pekerjaan atau amal dengan kualitas terbaik, menjadi sebuah keniscayaan. Rasulullah SAW mengungkapkan makna ihsan ini–tatkala beliau ditanyai Malaikat Jibril, Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Kedua, kita dituntut untuk menjadi saksi kebenaran atau pembela kebenaran. Allah SWT berfirman, Hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah (QS Ath-Thalaq [65]: 2). Tidak mudah menjadi manusia istikamah dalam kebenaran, diperlukan pemahanan yang baik, tekad kuat meraih ridha Allah, serta ketahanan mental yang ekstra untuk menahan segala tekanan dan godaan. Untuk menjadi seorang saksi atau pembela kebenaran terkadang kita harus mempertaruhkan semua yang kita miliki, termasuk nyawa. Berat memang, namun tebusannya adalah syurga (QS Ash Shaff [61]: 10-12).

Ketiga, kita dituntut untuk menjadi teladan kebaikan. Salah satu kunci perubahan adalah teladan. Dengan menjadi teladan, amal ibadah kita “disaksikan” oleh orang-orang di sekitar kita. Jika kita mampu menjadi teladan kebaikan, sebagaimana diperankan Rasulullah SAW, maka ketika itu kita telah meneladani Allah dalam sifat-Nya sesuai kemampuan kita sebagai makhluk. Wallaahu a’lam.

( KH Abdullah Gymnastiar ) Sumber : Republika online