|
ORANG MATI DIMINTA Rp 5 JUTA JAKARTA (Pos Kota) – Pungutan liar (pungli) di TPU (Taman Pemakaman Umum) marak. Untuk satu paket pemakaman ahli waris ditawari harga sampai Rp5 juta. Bahkan untuk TPU seperti di Tanah Kusir, Karet Bivak, Pondok Kopi harga tersebut bisa lebih mahal lagi. Paket yang ditawarkan antara lain makam menggunakan rumput berikut keramik, paket rumput dan perawatan serta paket perawatan saja. Selain itu, untuk dapat menempati lahan makan pada kelas tertentu harus pula mengeluarkan fulus sedikitnya Rp500 ribu dan bayaran harus diberikan dimuka. Kalangan DPRD DKI Jakarta mengaku mendapatkan laporan pungli kuburan di ibukota. “Ini bukan rahasia umum lagi, tapi memang sulit diberantas,” kata H. Ilal Ferhard, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Selasa (22/7). Ilal mendesak Gubernur Fauzi Bowo segera memberantas pungli di kuburan tersebut. “Oknum aparat tukang pungli harus dikenakan sanksi berat,” tegasnya. RETRIBUSI PEMAKAMAN Prasetyo, Kepala Kantor Pelayanan Pemakaman DKI Jakarta, mengaku tidak mengetahui adanya pungli di kuburan. Tetapi, ia berjanji segera memeriksa seluruh pengelola pemakaman. “Bila memang terdapat seperti itu maka kami tidak segan memberikan sanksi tegas sesuai dengan arahan Pak Gubernur.” Prasetyo mengatakan tiap rapat dengan seluruh unit kerjanya selalu memerintahkan agar tidak memungli warga. “Kami sudah perintah pelayanan harus diutamakan, dan siapa melanggar pasti saya tindak tegas,” tandasnya. |
|
PUNGLI DIKUBURAN
Juli 23, 2008PEMBANTAI MUSLIM BOSNIA DITANGKAP
Juli 23, 2008AKHIR PELARIAN RODOVAN KARADZIK
Sebelas tahun hidup dalam persembunyian, Radovan Karadzik, akhirnya ditemukan. ”Penjahat itu akhirnya harus menghadapi takdirnya,” kata Kada Hotic, menyikapi tertangkapnya mantan pemimpin Serbia-Bosnia yang menjadi otak pembantaian delapan ribu Muslim di Srebrenica, Juli 1995.
Kada Hotic kehilangan suami dan putra, saat pasukan Serbia memasuki Srebrenica yang terletak di Bosnia timur itu. ”Peristiwa malam ini memperlihatkan bahwa seorang penjahat perang tak dapat bersembunyi selamanya,” kata Kada Hotic kepada AFP di Sarajevo, kemarin.
Menyusul tertangkapnya Karadzik, warga Bosnia dan Kroasia turun ke jalanan. Di Sarajevo, warga antara lain membunyikan klakson layaknya tahun baru. Radio Bosnia juga memutar kembali ucapan pidato Karadzik yang penuh kebencian rasial.
”Saya membangunkan seluruh anggota keluarga dan kami turun ke jalan,” kata seorang warga Sarajevo, Fadil Bico, yang ditemui di tengah keramaian jalanan Sarajevo, Senin malam. Tertangkapnya Karadzik diungkapkan Presiden Serbia, Boris Tadic, pada Senin (21/7).
”Keberadaan Karadzik diketahui dan dia ditangkap,” demikian pernyataan itu. Sumber Pemerintahan Serbia menyebut Karadzik ditangkap di sebuah bus di Beograd, ibu kota Serbia, setelah diintai beberapa pekan. Saat ditangkap, Karadzik menyamar sebagai pria tua berambut dan berjenggot putih, lengkap dengan tas bepergian. Saat ditangkap, dia tak melawan.
Tapi, apakah benar yang tertangkap itu Karadzik? Sebuah sumber yang dekat dengan pemerintahan menyatakan akan memastikannya dengan proses identifikasi resmi, antara lain tes DNA. Karadzik ditangkap pada malam menjelang pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa (UE). Pertemuan membahas hubungan lebih erat UE dengan Serbia setelah pembentukan pemerintah Partai Demokrat pimpinan Boris Tadic. UE pun menyambut baik penangkapan itu dan menilainya sebagai tonggak sejarah dalam aspirasi Serbia menuju UE.
Tak jelasnya keberadaan Karadzik sejak tahun 1997 membuat Serbia terhalang menjadi anggota UE. Tertangkapnya Karadzik menjadi syarat Serbia menjadi anggota UE. PM Milorad Dodik yakin tertangkapnya Karadzik telah membuka jalan bagi keanggotaan Serbia di UE.
Bersama mantan presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic yang meninggal tahun 2006 sebelum pengadilan atas dirinya dimulai Karadzik bertanggung jawab atas pembantaian 12 ribu orang selama 43 bulan pengepungan Sarajevo dan pembantaian delapan ribu Muslim di Srebrenica. Tertangkapnya Karadzik menyisakan dua orang lagi yang masih bersembunyi, yaitu Ratko Mladic dan Goran Harzic.
Mladic (65 tahun) adalah panglima militer Serbia Bosnia selama perang 1992-1995. Ia menghadapi dua dakwaan. Pertama, pemusnahan suku bangsa selama pengepungan 43 bulan atas Sarajevo yang menewaskan tak kurang dari 12.000 orang. Kedua, pemusnahan suku bangsa di Srebrenica.
Goran Hadzic (49) adalah pejabat lokal Serbia Kroasia yang didakwa merencanakan pembunuhan dan pendeportasian ratusan orang non-Serbia di Republik Serbia Krajina, yang memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak di Republik Kroasia. Istri Karadzik, Ljiljana Zelen, terkejut ketika mendengar bahwa suaminya ditangkap. ”Saya terkejut dan tak percaya,” katanya di Pale, sekitar 20 kilometer di tenggara Sarajevo. Tapi, ”Setidaknya, saya mengetahui bahwa dia masih hidup,” katanya.
Karadzik menjadi pemimpin Serbia-Bosnia selama perang 1992-1995. Pada Juli 1995 lalu, Mahkamah Pidana Internasional bagi bekas Yugoslavia (ICTY) yang berpusat di Den Haag mendakwa Karadzik melakukan 11 kejahatan, seperti genosida terhadap warga Muslim Bosnia, warga Kroasia, dan warga sipil non-Serbia. Karadzik bersembunyi pada 1997 karena kehilangan kekuasaan setelah dua tahun ada campur tangan militer NATO mengakhiri perang tersebut, yang terjadi menyusul ambruknya Yugoslavia.
Dari enam republik bekas Yugoslavia, Bosnia-Herzegovina harus membayar harga paling mahal kemerdekaannya dari orang Serbia di bawah pimpinan Karadzik, yang dinilai bertanggung jawab atas sebagian besar dari 100 ribu korban jiwa. Namun, harapan orang Serbia di bekas Yugoslavia untuk mendirikan Republik Serbia Raya kian jauh dari jangkauan mereka.
Tertangkapnya Karadzik membuka jalan bagi proses pengadilan oleh ICTY. Begitu proses hukum di Serbia selesai, Karadzik akan langsung diekstradisi ke Den Haag. Karadzik dipastikan menempati sel yang sama dengan Milosevic. Pembela Karadzik, Svetozar Vujacic, mengatakan, Karadzik telah menjalani proses interogasi sepanjang Selasa (22/7). Vujavic mengatakan, selama proses itu, Karadzik mengatakan, dia sebenarnya telah ditangkap sejak Jumat (18/7) malam.
Selama pelariannya, Karadzik diyakini berpindah-pindah dari Serbia, Bosnia, dan Montenegro serta wilayah bekas federasi Yugoslavia lainnya. Sejumlah laporan menyebutkan, Karadzik terakhir kali muncul di depan publik di kawasan Han Pijesak, Juli 1996, sebagai penumpang sebuah bus yang menuju kawasan utara.
Saat itu, Karadzik menyamar sebagai lelaki tua lengkap dengan jenggot dan rambut warna abu-abu. Menjelang tertangkap, Karadzik bahkan menyamar sebagai ahli pengobatan alternatif dan membuka sebuah klinik di Beograd.Selama pelariannya itu, Karadzik bahkan sempat menulis buku Miroculous Chronicles of Night yang diterbitkan mantan orang dekatnya, Miroslav Tohol, Oktober 2004.
Laporan lain menyebutkan, pada Mei 2005, Karadzik bahkan sempat makan malam dengan istrinya, Ljiljana, di sebuah restoran kecil di Niksic, sebuah kota di Montenegro, tak jauh dari perbatasan Bosnia. Karadzik juga pernah terlihat dengan saudaranya, Luka, di Beograd. Sejumlah pihak yakin keberhasilan Karadzik menyembunyikan diri tak lepas dari peran kedua anak perempuannya; Sasha, Sondja, dan teman-temannya, para ultranasionalis Rusia.
Karadzik lahir 19 Juni 1945 di Savnik, sebuah kota di Montenegro, dari pasangan Vuk dan Jovanka Karadzik. Ayahnya gerilyawan nasional Serbia yang berjuang menghadapi pasukan pendudukan Nazi Jerman dan pemimpin komunis Joseph Briz Tito. Karadzik remaja juga dikenal sebagai penyair sebelum kemudian terjun ke politik atas saran Dobrica Cosic, tokoh nasionalis Serbia. Karadzik kemudian mendirikan Partai Demokratik Serbia pada 1990 dengan agenda mewujudkan berdirinya Greater Serbia atau Serbia Raya.
Pada malam menjelang pecahnya perang 1992, Karadzik diberitakan mengeluarkan peringatan yang menentang proklamasi kemerdekaan Bosnia-Herzegovina. Saat itu, dia menyatakan, ”Mungkin yang membuat Muslim Bosnia hilang karena mereka tak dapat membela diri mereka kalau perang berkecamuk.
Ditulis oleh baburrahman
Ditulis oleh baburrahman